Rabu, 12 Desember 2018

RAPOT YANG BIKIN REPOT

     Hari hari ini banyak orang yang berkutat dengan angka-angka. Bahkan status yang dibuat banyak orang pun penuh dengan keluhan rapotnya menulis rapot.
       Apakah demikian susah membuat nilai rapot?
     Kalau pertanyaan itu ditanyakan kepadaku ya jelas susah dan ribet plus ting plenyit. Banyak item atau isian yang harus diisi. Itu masih mending kalau gurunya muda, energik dan cantik. Eh, kalau cantik apa yang hubungannya ya? 
     Ah, yang penting kalau guru melek IT dan sehat, tentu menulis rapot tidak seribet yang diperkirakan. Dengan catatan, dia rajin menilai setiap ada kesempatan. Jadi jangan penilaian menumpuk di akhir semester.
Itu kalau dirinya sendiri hanya guru mapel saja. Lah, kalau wali kelas?
    Nah, ini yang agak repot sebab wali kelas itu berhubungan dengan banyak orang. Ya dengan rekan guru, ya dengan wali siswa. Kalau jadi wali kelas dan rekan guru yang lain tidak trengginas dan tidak cak cek ya sudah rapot bisa molor dan terlunta lunta, enggak jelas.
    Tapi kalau semua rekan guru siap dan sigap, tentu pengisian nilai rapot tidak akan seheboh momen momen saat ini. Oiya, lupa Ding. Di samping pengisian rapot perlu kerjasama satu sekolah, juga diperlukan waktu yang banyak bagi wali kelas. Sebab wali kelas harus mengeprint berlembar-lembar raport.
     Kalau guru mapel hanya mencetak 4-8 lembar maka kalau wali kelas harus mencetak 13. Itu belum dikalikan jumlah siswa dalam satu kelas. Bisa kebayang kan berapa rim kertas yang dibutuhkan untuk menyelesaikan itu semua. Enak sih kalau guru kelas menengah dan akhir tidak banyak ngeprint. Lha, kalau guru kelas awal tentu harus input data siswa yang berjibun. Maka perlu ketelitian dan kehati-hatian dalam mengisi rapot.
    Sebab hilang atau kurang aware maka bisa jadi nanti diprotes wali siswa. Banyak lho wali siswa yang pintar, apalagi bila wali siswa itu seorang guru tentu sangat paham dengan kriteria penilaian dan rumus kompetensinya.
Jadi memang hari hari ini sangat melelahkan bagi semua guru k13.
     Dan bila pimpinan atau pejabat di atas belum pernah mengisi rapot maka dia tidak akan paham bagaimana ruwetnya mengisi rapot tersebut. Lalu apakah penilaian yang rumit dan sulit itu akan diperhatikan orangtua siswa? Entahlah. Jangan jangan orangtua siswa hanya memperhatikan nilai akhir, bukan per poin atau bukan per KD-nya. Hanya nilai global saja.
Kalau seperti itu, masih perlukah penilaian yang jlimet bin rumit itu? Entahlah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar yang membangun sangat berguna tidak hanya bisa mencaci tetapi berikan juga solusi