Rabu, 05 Desember 2018

MEMBAHAGIAKAN IBU

     Setelah ada kepastian kapan akan dilaksanakan penghargaan lomba konten kanal Paud, aku segera kontak orangtua, khususnya ibu. Sebab tinggal ibulah satu satunya orangtua kandungku.
  Saatnyalah aku membahagiakan beliau. Uang yang kudapatkan dari lomba ini akan kugunakan untuk menyenang-nyenangkan hati keluarga dan orangtua.
      Maka berangkatlah kami berenam ke Bandung, dimana tempat itulah diselenggarakan pemberian penghargaan itu. Aku pun memesan enam tiket. Aku, istri, kedua anak, ibu kandung dan ibu mertua. Kereta yang kupilih pun, kelas bisnis. Bukan apa apa, takut saja kalau ekonomi, mana gerbong yang ampek, sempit dan mungkin bau. Itulah yang biasanya terlintas bila memilih gerbong kelas ekonomi.
Menunggu Kereta di Stasiun Tugu

   Harga yang cukup mahal untuk enam orang di kelas bisnis tidak menjadi soal. Termasuk kalau semua hadiah lomba habis untuk perjalann ke barat ini. Tak mwngapa sebab kapan lagi aku bisa membahagian orangtua kalau tidak hari ini.
     Ya hari ini. Sebelum semua terlambat dan aku memyesal bila tidak melakukan apapunn untuk orangtuaku.
    Pukul 10 lebih kami mulai berangkst ke stasiun, sebab kereta akan berangkat pukul 12 lebih sedikit. Tidak apalah kami menunggu barang sebentar di stasiun. Itu lebih baik daripada mepet keberangkatan malah membuat kemrungsung dan tidak tenang di jalan. Apalagi kalau sampai telat maka bisa jadi tiket itu hangus. Duh, jadi sia-sia deh semua.
      Anak lakiku sudah tidur, maka mau tidak mau kubopong dan kutaruh di dalam mobol. Ibu juga sudah tidur, kucoba membangunkan. Setelah semua bekal dibawa dan komplit, kami berangkat. Sampai di stasiun waktu menunjukkan pukul 11.30,           Alhamdulillah tidak terlambat. Kami bisa agak tenang. Angin dingin mulai menusuk saat keluar mobil.
    Aku pun mulai mencetak tiket. Dengan modal kode bookinh aku mencetak 6 tiket di mesin cetak depan pintu masuk stasiun. Stasiun Tugu tampak sepi. Namun aku yakin di dalam kereta tetap ramai nantinya. Benar saja, lumayan ramai.
 
Bersama Keluarga, Ibu dan Ibu Mertua 

    Meskipun ramai kalau bisnis tetap saja kita dapat tempat duduk. Semoga.

Selasa, 04 Desember 2018

CARA MENYELAMI HATI PIMPINAN

    Untuk menyelami seorang pimpinan itu perlu ilmu khusus. Perlu trik khusus. Tidak bisa kita grusa grusu sebab nanti hasilnya tidak seperti yang kita harapkan.

Misalnya kita mau izin atau perlu keluar sekolah, kita perlu lihat kesibukan pimpinan.

    Termasuk, apakah raut muka pimpinan sedang gembira. Sedang sedih. Atau apakah pimpinan sedang sibuk? Juga apakah pimpinan baru PMS atau tidak. Itu penting sebab salah membaca suasana, hasilnya bisa kecewa. Siang ini aku mau menghadap pimpinan untuk minta izin menghadiri acara resmi pemerintah. Tingkat nasional lho. 
     Kulihat Bu Kepsek sedang duduk di ruang guru. Ah, kesempatan ini, batinku. Kebetulan acara hari ini ada pelatihan pengisian E-Raport. Jadi semua sibuk dengan kegiatan masing masing. Suasana yang kondusif.
     Segera aku cepat cepat nge-print surat tugas yang mesti ditanda-tangani pimpinan.
Yups, satu lembar surat tugas telah tercetak, saatnya menghadap. Keadaan sepi guru guru sudah pergi ke ruang komputer untuk pelatihan.
     "Maaf, bu. Mohon menghadap," ucapku hati -hati.
     "Ada apa, Dik?"
     "Ini bu, saya mau izin besok hari Kamis dan Jumat."
     "Ada apa?" selidik Bu Kepsek.
    "Ini bu, saya dapat penghargaan di Bandung," ucapku sambil menyodorkan lembar undangan dari Dirjend PAUD.
Beliau tampak mencermati surat itu dan mungkin bingung.
    "Jadi gini bu, buku PAUD saya juara lima Lomba Konten Kanal PAUD."
    "Oya ya," jawab beliau setelah sedikit paham.
    Dalam hati aku berharap, " Selamat ya Dik. Panjenengan telah membawa harum sekolah kita. Terus maju dan berprestasi ya?" 
    Itu tak terucap. Sungguh, tidak perlulah diberi uang saku atau apa. Sekadar ucapan selamat saja sih.  (ternyata itu pun harapan berlebihan  )
    Dalam kondisi yang sudah terbuka hatinya, segera kusodorkan surat tugas yang baru kuprint tadi agar ditanda-tangani. Sebab panitia lomba hanya membutuhkan surat tugas dari pimpinan langsung. Kalau biasanya kan yang tanda tangan pejabat eselon 2 atau kepala dinas. Juga perlu SPPD. Tetapi kalau lomba paud sangat longgar. Bahkan yang tidak kerja di instansi, tidak perlu bawa surat tugas.
    Tidak perlu juga bawa surat keterangan dari pak dukuh atau lurah. Cukup bawa tiket untuk dapat gantinya.
   "Terus buku 1 ( kumpulan silabus semua guru) dan buku 2 (kumpulan RPP semua guru) tahun lalu sudah ada tho Dik? Sebab kita mau akreditasi tahun depan" ucap bu kepsek mengalihkan pembicaraan.
   "Waduh, susah bu meminta teman teman untuk mengumpulkan silabus dan RPP?"
   "Tapi tetap dimintai lho?
   " Iya, Bu."
   "Terus nanti ikut membimbing pelatihan E-Rapot lho, Dik."
Dalam hati, "Kan orang yang jadi narsum sudah ditunjuk yaitu guru TIK, kok aku jadi ikut ikutan, tapi okelah. Yang penting besok Kamis pergi lagi. Terimakasih Bu Kepsek."

Kamis, 29 November 2018

PENSIUN PASTI TERJADI

    Pagi ini ada peristiwa yang tidak biasa, yaitu adanya dua rekan guru yang pensiun. Guru-guru yang sudah mengajar selama puluhan tahun di sekolah ini. Pasti mengalami masa yang disebut pensiun. Menurut aturan pemerintah setiap ASN (Aparatur Sipil Negara) mau tidak mau harus pensiun sebagai tanda berakhirnya mengabdi kepada negara di instansi sekolah.

Hj. Sri Widyastini Berpamitan
      Hari ini, rekan guru Hj. Sri Widyastini ini luar biasa sekali. Beliau sudah mengajar selama 40 tahun. Meskipun mengajar di SD terlebih dahulu, kemudian baru mengajar di SMP 2 Bambanglipuro. Beberapa waktu yang lalu rekan guru yang lain juga telah pensiun. Pensiun memang tidak bisa ditolak. Pensiun pasti terjadi. Bahkan ada beberapa orang guru atau ASN yang mengajukan pensiun dini. Tentu dengan keinginan dan kepentingan masing masing. 
      Kalau aku sendiri sih, ingin menuntaskan seluruh waktu mengabdi di dunia pendidikan. Inshaalloh tidak ada keinginan untuk pensiun dini. Mungkn ini dunia saya. mungkin ini passion saya dan mungkin pula ini ladang saya dalam mencari pahala. Sebab dengan mengajar yang baik dan melakukan tugas kedinasan dengan baik, maka di situlah pahala akan terus mengajlir. Inshaalloh. Ingin rasanya memberikan pelayanan prima.
Teman-teman menyalami guru yang pensiun
Pensiun pasti tejadi sehingga bila ingin mendapatkan pahala yang banyak, maka sisa waktu yang ada perlu dimanfaatkan untuk berbuat yang terbaik. So, seberapa baik kamu akan mengakhiri masa kerjamu. Berikan yang terbaik untuk sisa kerja yang ada.
    Tentu kita tidak ingin, orang-orang mengenang kita sebagai pegawai atau guru yang malas. Guru kurang kurang disiplin dan mengacuhkan siswa. Bukankah secara langsung maupun tidak langsung siswa kita belajar. Entah kita katakan atau tidak. Bahkan ada seorang teman yang bilang bahwa siswa tetap belajar saat kita ada di kelas atau tidak. Saat kita tidak mengajar pun siswa sebenarnya juga belajar. Namun yaitu tadi siswa kita belajar tentang hal yang baik atau tidak. Oleh karena itu perlu kita beri contoh hal yang baik. Selamat pensiun teman-teman yang mesti pensiun tahun ini. Semoga aku pensiun dengan baik dan bermanfaat saat melaksanakan pengabdian. Aamiin. 

LOKAKARYA PENERJEMAHAN CERITA ANAK (1)

   Hari pertama lokakarya penerjemahan buku cerita anak dimulai agak molor. Menurut agenda dalam acara akan dimulai pukul 8 pagi. Namun ini sudah hampir setengah sembilan namun belum ada tanda tanda akan dimulai. Badan terasa gerah sebab belum mandi juga. bagaimana bisa mandi coba, tiba di tempat acara sudah hampir pukul 8.

Di Depan Stasiun Gubeng
Apalagi mandi di stasiun tidak diperbolehkan. terpaksa deh, berangkat badan masih bau apek, keringat masih lengket. ah, semua demi ilmu baru.

Kami memesan oplet yang sebenarnya kurang meyakinkan. wong sopirnya saja tidak tahu jalan jalan besar. Malah beberapa kali dia turun hanya sekadar untuk menanyakan jalan mana menuju Universitas Negeri Surabaya. Iki sebenarnya sopir opo tho? Dia sebenarnya sopir colt, kayaknya sering ngetem juga. Apalagi tato di tangannya menunjukkan dia bukan orang sembarangan. ya, paling tidak dia bukan sopir sembarangan.

Menyusuri Jalanan Surabaya
Namun untuk masalah jalan dia tampak ekbingunan malah salah satu teman kami menawarkan google map, dia juga malah tidak paham. Dia lebih suka bertanya langsung kepada orang setempat. Wah, komunikasi yang klasik. dan parahnya setelah diberitahu dan ebrtanya kepada masyarakat setempat, dia masih nyasar juga. Duh, iki sopir opo tho?

Setelah beberaap kali belok dan terkena macet, serta putar balik tidak tentu arah, akhirnya sampai juga di rekotrat universitas negeri Surabaya. Gedung yang megah itu sangat timpang dengan kondisi kami yang kucel. Kecualai salah seorang teman yang sudah sempat mandi bersih di stasiun gubeng. Ah, betapa beruntungnya dia yang sempat mandi dan danadan necis. Apakah itu ada pengaruhnya terhadap respon ornang lain?

Tentu ada. nyatanya saat dia tanya ke salah seorang petugas atau pegawai unnes langsung ditunjukkan jalan dan diantar. namun saat melihat kami, dia langsung tanya, " Kalau Anda mau ke mana ya?" Begitu tanyanya tanpa dosa. padahal ya kami satu rombongan dengan teman kami yang duluan itu. Duh, piye tho iki. setelah kami mengaku satu rombongan dia mulai mempersilakan. hum ini benar-benar deskriminatif terhadap orang yang sudah mandi dan belum.
Berputar-putar Tak Tentu Arah

Saat registrasi, badan semakin tidak karuan. lengket dan tidak pede. Ada toilet di ujung. rencana mau mandi di sana setelah daftar ulang. Daftar ulang pun selesai. aku membawa tas masuk ke dalam toilet namun setelah meilhat kondisi toilet, in tidak mungkin untuk mandi. Toiletnya terlalu sempit dan ada lubang angin di bawah. Jadi nanti kalau kami mandi tentu air akan terpercik ke luar. Belum letak tempat daftar ulang dan toilet begitu dekat. Nanti kalau kami mandi pasti kedengaran penjagan tempat daftar ulang.

Ah, bisa ditegur lagi kami nanti. Malu kan? Akhirnya kuurungkan niat mandi pagi itu. Aku hanya membasuh muka beberapa kali. Hum cukup segar juga.


Senin, 26 November 2018

PERJALANAN YANG GILA

      Baru saja tadi malam sampai rumah, malam ini sudah siap siap pergi lagi. Ya, malam ini kami mau menimba ilmu penerjemahan. Menerjemahkan cerita anak dari bahasa Inggris menjadi bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Keren ya? 
Pembukaan Acara Lokakarya Cerita Anak
   
   Ini ilmu baru sehingga perlu diburu. Siapa tahu dapat sesuatu yang menambah greget menulis, tentunya menulis jenis cerita baru. Ya, paling tidak cerita anak dalam bahasa Inggris atau bahasa Jawa.

Ah, cerita seperti itu sudah banyak contoh dan bukunya.


   Okelah, kalau bahasa Inggris sudah banyak bukunya. Bagaimana dengan cerita bahasa Jawa? Apakah banyak? Atau jangan jangan sudah mau punah. Malam ini, tepatnya dini hari ini pukul 1 kami mau pergi ke Surabaya.
Di universitas negeri Surabaya (Unnes) kami akan belajar menerjemahkan cerita anak dari berbagai bahasa (mungkin bahasa Inggris saja sih  ) kemudian diubah menjadi bahasa Indonesia atau bahasa Jawa.

Untungnya, ada 6 teman yang lain seleksi sehingga tidak terlalu ngelangut di perjalanan kali ini.

     Tahu enggak sih kalau bahasa Jawa termasuk bahasa yang sulit bagi kami. Sehingga ada usulan seorang teman yang mau membawa buku pepak basa Jawa. Ha..ha lucu dan penuh semangat. Kami tidak tahu bagaimana hasil karya kami nanti. Apakah akan dicetak dan dijadikan buku? Atau hanya di-posting di web let's read dan semua orang bisa membaca serta mengunduhnya.

     
Apa pun hasilnya, doa kami semoga sedikit hasil karya kami nanti, dihitung sebagai penambah timbangan kebaikan di kemudian hari. Aamiin. See you Surabaya. Bismillah.

STASIUN GUBENG BIKIN PUYENG

"Neng stasiun balapan. Kota Solo kang dadi kenangan, kowe Karo aku." Asek.
(Hokya hokya jooss)



   Itu kalau stasiun Balapan, Solo. Beda dengan stasiun Gubeng, Surabaya. Pukul 6 kami tiba di stasiun Gubeng. Begitu tiba, ingin rasanya ngadem awak.

Yups, kami ingin mandi. Tapi di mana?

   Aha, ada sebuah toilet umum di dekat Musala. Meluncurlah kami menuju ke sana. Sudah mau siap siap, semua barang di taruh di musala. Beberapa teman mencoba meluruskan boyok.
"Maaf, tidak boleh tiduran di musala," ucap seorang sekuriti. Baiklah kami bangun dan duduk manis. Sambil ngobrol ngobrol, kami mengeluarkan permen. Enggak dimakan sih, tepatnya belum di makan.

"Maaf. Tidak boleh, makan dan minum di Musala," tegur petugas kebersihan.

Baiklah, kami memasukkan lagi permen ke dalam tas. Daripada nunggu enggak jelas, salah satu teman langsung cap cup pergi ke kamar mandi.
   Dia membawa baju, handuk dan perangkat mandi lainnya. Duh, kayaknya seger nih mandi pagi pagi, batinku. Baju ganti sudah dipersiapkan termasuk underwear dan peralatan mandi. Baru mau masuk kamar mandi (baca: toilet).

"Maaf. Tdak boleh mandi ya, sebab airnya tandon," kata petugas kebersihan.

   Baiklah. Kuurungkan niat untuk mandi. Aku kemasi lagi barang barang untuk mandi dan menuju ke musala kembali. Sampai musala kumasukkan lagi peralatan mandi.
Batal acara mandi pagi deh. Oh, Gubeng Gubeng.
    Kemudian setelah berembug, kami memutuskan langsung ke tempat acara. Siapa tahu nanti ada keajaiban tempat mandi yang representatif. Siapa tahu. Semoga dimudahkan niat baik kami untuk menuntut ilmu. Eh, sebenarnya ilmu enggak salah apa apa sih, jadi sebenarnya kurang etis menuntut ilmu.
     Oke, kami tidak akan menuntut ilmu, kami hanya akan mencari ilmu, ngangsu kawruh di kota pahlawan ini. Itu saja. Kami sudah tegar menjalani semua ini. Sebab acara ini sensasinya beda. Beda sekali. Kami.menjadi traveler sejati. Bahkan kami naik oplet segala. Jian true traveler tenun.

Rabu, 31 Oktober 2018

SEMUA KARENA LION AIR

    Pukul 1 kemarin kami harus pergi ke Gorontalo. Berhubung hanya ada maskapai Singa maka mau tidak mau ya naik itu juga. Banyak orang yang menamai maskapai ini dengan rajanya delay. Duh, sudah kebayang bagaimana nasib kami berempat. Okelah itu resiko kami sebagai guru yang ditugaskan ke sana. Semoga saja kami kuat menghadapi perjalanan dab kenyataan.
Keberangkatan dari Jakarta ke Gorontalo

Bismillah
    Penerbangan jam 1 tapi kami sudah pagi pagi pukul 9 harus ke bandara Soeta. Begitu selesai semua boarding pass, kami masuk ke pesawat. Pesawat yang sangat besar. Besar sekali malah wong boing 747. Kami dapat kursi nomor 32, itu artinya kami berada di deretan kursi belakang. Informasi tentang tatib pesawat pun diperagakan. Kemudian dilanjutkan pesawat take off.
   Seperti yang ada di benakku, pesawat ini dan beberapa pesawat yang lain, pasti terjadi goncangan. Kecuali maskapai favorit kami, galuda. He..he Guncangan terus terjadi, sampai bunyi krak krak pun terdengar. Maklum kami berada di buritan jadi sangat terasa. Aku mulai menahan rasa mual dan pening di kepala. Di tambah jantung deg degan. Ya Alloh, kuatkanlah hati kami.
Guru Mitra 1 di dalam Pesawat Lion Air

    Alhamdulillah, pesawat berhasil lepas landas. Lega rasanya. Belum penuh kelegaan kami, terjadi guncangan lagi. Kali ini mungkin karena melewati awan. Ya Alloh, perut mulai mules. Tebersit di pikiran nanti kali terjadi lagi maka aki akan mencari plastik. Kuedarkan pandangan di kursi depanku, ternyata tidak ada plastik. Gawat.
    Setahuku di maskapai apa pun pasti disediakan plastik bagi penumpang yang mabuk. Tapi ini tidak ada. Gila. Maskapai yang sering wira wiri ini kok tidak memberikan pelayanan yang prima kepada para penumpangnya. Sayang sekali.
Tiba di Bandara Makasar

    Rasa mual semakin menggelora. Duh, ya ampun. Rasa mual semakin terasa. Bagaimana ini? Tidak mungkin kan aku muntahkan ke depan. Atau kumuntahkan di toilet. Sepertinya aku tidak akan sanggup ke toilet dengan menahan rasa mual ini. Duh.
    Tak berapa lama, terdengar pengumuman untuk transit pesawat. Kami hanya sampai Makasar saja. Itu artinya kami harus berhwnti. Beruntungnya lagi kami harus turun peswat untuk laporan. Alhamdulillah. Untuk beberapa orang transit itu menjengkelkan dan mengesalkan namun tidak bagiku.
Yey, Aku Terbebas Karena Transit

  Transit telah membuat rasa mualku terjeda karena harus turun dan tidak menerima goncangan pesawat lagi. Terimakasih ya Alloh, untuk solusi yang luar biasa ini.

Rabu, 26 September 2018

SUSAHNYA BAYAR PAJAK DI INDONESIA

   Seperti yang kuceritakan kemarin, salah satu harta yang bernilai (baca: sepeda motor) telah habis masa berlakunya. Sehingga aku harus membayar pajak agar bisa digunakan. Karena satu dan dua hal, pembayaran pajak tertunda beberapa minggu hingga hari ini. Ini aku sudah berniat baik lho, tidak peduli sudah terlambat dan terkena denda.

Tetap sebagai warga negara yang baik, aku harus taat pajak. Begitu prinsipku.

   Oleh karena itu, dengan semangat 45 dan 1998 aku mau mengurus pajak sepeda motor sendiri. Mumpung hari ini mengajar hanya 2 jam pelajaran. Jadi daripada ngerumpi atau nyinyirin hidup orang lain maka aku berangkat ke Samsat Bantul.

Berbekal STNK, KTP dan BPKB, aku pergi ke Samsat. Oiya FYI aku harus ganti plat nomor sebab sudah masuk pajak lima tahunan. Okelah.

Pertama-tama yang kulakukan adalah cek fisik terlebih dahulu. Ya, diperiksa berapa nomor mesin, nomor rangka dan sebagainya.Eh, ternyata sebelum ke situ, aku harus mengurus pendaftaran terlebih dahulu dan memfotokopikan syarat-syarat adiministasi. Jadi aku balik lagi sebelum mengurus cek fisik.
Begitu dapat lembar formulir dan sudah difotokopikan, aku kembali ke bapak pengecek mesin dan rangka motor. Dia terima lembar formulir. Cek dan cak cek selesai.
Kupikir aku bisa langsung mendaftarkan pajak, ternyata tidak. Aku harus mengesahkan lembar tadi di konter pengesahan. Tok tok tok, sudah disahkan, kemudian pindah di ruang satunya lagi. Di situ aku harus membayar 160 ribu rupiah. Baiklah, aku manut saja.

Selesai pembayaran dan bukti pengesahan, aku masukkan di kotak formulir pendaftaran. Ternyata tidak sampai berhenti di situ. Berhubung alamat STNK dan BPKP berbeda maka kata petugas; aku harus ke Poresta mengurus pergantian alamat baru terlebih dahulu. Kantor Polesta agak jauh dari samsat. Itu artinya, aku harus keluar dari parkiran dan pindah tempat ke polresta.

Sabar...sabar.

Di polresta, aku harus mencari ruangan khusus penanganan BPKB. Setelah melampirkan berkas yang diminta (fotokopi STNK dan KTP serta BPKB), aku kembali ke Samsat. Dan katanya BPKB bisa diambil tanggal 5 Oktober 2018. Ya, Alloh semoga aku ingat. 
Bismillah tetap semangat. Ganbate

Pindah lagi, sekarang balik ke Samsat. Di situ, aku menaruh syarat syarat membayar pajak lagi. Eh, ternyata ada yang kurang sebab waktu di Polresta ada beberapa fotokopian diambil petugas BPKB Okelah, aku harus memfotokopikan syarat lagi.
Aku keluar ruangan lagi, fotokopi lagi. Sret..sret, fotokopian selesai. Sudah lengkap, aku kembali ke petugas pajak motor tadi, Dia ambil berkasku dan diperiksa sekilas.

"Pak, ini STNK bisa diambil tanggal 2 Oktober. Ini kertas pengambilannya."

Ya, Alloh mau bayar pajak saja susah banget. Pantesan banyak orang pada ngemplang. Lha ribet. Sudah ribet, bayar lagi. Duh, Indonesiaku.

Kamis, 20 September 2018

JUARA MENULIS ARTIKEL UNTUK GURU

    Kalau melihat kembali saat pertama kali mengetahui informasi lomba guru menulis, aku ingin selalu tersenyum. Bagaimana tidak, waktu itu aku hanya melihat status WA seorang teman. Iseng saja lihat statusnya. Eh, kok dia posting tentang lomba guru tersebut. Hum, kayaknya bisa ikut nih, batinku. Maka segera mempelajari tema dan memilih cerita. 
   
    Cerita yang dibungkus dari kegiatan nyata di sekolah dan merupakan original ide saya. Artinya aku belum pernah ada seorang guru pun yang menggunakan cara-cara seperti yang kulakukan dalam pembentukan karakter. Okelah, sekarang tinggal ditulis dan disajikan beberapa data yang ada. Zaman sekarang sangat gampang kan mencari data. Dengan kemampuan internet yang super duper keren maka aku mulai menulis artikel. 
   
    Tidak membutuhkan waktu lama untuk menulis, sebab hanya tiga lembar yang dibutuhkan oleh dewan juri. Meskipun sepertinya susah mengutarakan ide-ide dengan lembar yang terbatas. Malah kalau tidak mengingat ketentuan aku menulisnya melebih batas maksimal. Namun coba aku rem dan padatkan tulisanku, termasuk daftar pustaka hanya kutampilkan dua saja. Tidak lebih sebab kalau aku melebihi ketentuan bisa jadi naskahku akan didrop dan dianggap tidak memenuhi syarat. Maka okelah, aku harus pandai menghemat kalimat.

  Syukurlah, pas tiga halaman sudah bisa ditulis semua. Meskipun dalam hati belum puas dan tuntas. Biarlah. Dengan naskah yang seperti itu, aku kirim ke panitia. Beberapa minggu berikutnya, aku mendapat WA dari seseorang yang menyatakan kalau aku juara 2. Alhamdulillah, tidak menyangka aku bisa lolos dan menjadi juara 2 tingkat provinsi. Padahal tidak menyangka sama sekali. Terimakasih ya Alloh atas rezeki yang luar biasa ini.
     Sekarang tugasku adalah menunggu proses selanjutnya sebab menurut infor lomba akan akan mendapat sertifikat, uang pembinaan dan piala. Berapa hadiahnya, aku tidak tahu pasti sebab tidak disebutkan secara jelas dalam informasi lomba. Berapa pun itu, tetap aku bersyukur bisa mengembangkan kemampuan. Semoga ini menjadi awal untuk kembali menulis artikel dan lolos lagi, juara lagi. Begitu seterusnya sampai aku bosan. Wkkak mana bosan kalau juara terus ya?

WORKSHOP KEMITRAAN SMP TAHUN 2018

"Tugas besar membutuhkan tanggungjawab besar"

     Tidak menyangka bahwa program ini begitu rumit. Habis workshop guru mitra 2 (guru dari luar Jawa) ke mitra 1 (ke Yogyakarta). Itu artinya mereka tidak pulang selama 11 hari.
    Begitu pun, aku nanti diundang dulu ke Jakarta, kemudian pergi ke sekolah mitra 2 (Gorontalo). Setelah menyelesaikan tugas selama 7 hari, kembali lagi ke Jakarta baru pulang ke Yogya. Jadi aku pun akan meninggalkan keluarga selama 10-11 hari di Gorontalo.
    Perlu persiapan mental dan segalanya. Cos selama ini mengajar di tempat yang enak dan asyik. Tidak banyak kendala yang berarti. Sekarang diterjunkan di medan yang sama sekali baru. But, bismillah saja. Jika ini tujuan baik pasti dimudahkan segala urusan. Begitulah aku memahami
Kata penyelenggara, orang-orang yang ada dalam kegiatan ini adalah guru-guru yang nilai UKG nya tinggi, eh tinggi atau paling tinggi ya? Di samping itu karena guru yang diundang adalah guru berprestasi. Bukan guru sembarangan. Biar pun dari GM 2 tetapi mereka adalah yang terbaik dari daerahnya.

    Dari penjelasan tersebut, aku tidak masuk kriteria guru memiliki nilai UKG tinggi. Malah nilai UKG ku biasa saja. Tinggi enggak rendah juga tidak, sedang gitu. Tetapi ketika poin menjadi guru berprestasi, aku termasuk sih. Ya, paling tidak aku menghibur diri sendiri. Betewe, aku sangat beruntung bisa masuk dalam program ini. Sebab program ini seperti program pertukaran pelajar atau petukaran kepala sekolah yang pernah dilakukan beberapa waktu yang lalu.
    Nah, sekarang digilir gurulah yang dilibatkan. Tidak semua sih.Maksudnya tidak seluruh Indonesia sebab dari Yogyakarta saja hanya ada dua perwakilan daerah. Kami dari Bantul dan kotamadya Yogyakarta. Aku berharap banyak mendapatkan pengalaman yang bermanfaat di Gorontalo. Paling tidak mengenang beberapa puluh tahun lalu mengajar anak di daerah yang banyak keterbatasan. Termasuk, keterbatasan sarana prasarana.
    Dalam kondisi tersebut tentu banyak ide yang tercipta. Ide akan terus berkembang untuk menyelesaikan permasalahan di lapangan atau di dalam kelas. Kita akan termotivasi bagaimana caranya menjelaskan materi bahasa inggris kepada siswa yang terbatas. Hum, sepertinya itu pengalaman yang luar biasa. Siapa tahu juga aku mendapat materi untuk naskah bukuku selanjutnya. Bukankah aku berapada di daerah asing dan jauh, tentu akan ada kisah, makanan dan budaya yang berbeda denan Yogyakarta. Nah, itulah harta yang tersimpana dan bisa digali serta siapa tahu bermanfaat bagi orang lain saat materi itu aku tulis. Bismillah saja, mendapatkan hal yang terbaik di daerah penugasan. 

KELILING YOGYAKARTA

    Mulai Minggu kemarin, 9 September 2018 kita sudah kedatangan guru mitra 2 dari daerah lain (daerah luar pulau Jawa). Ada dari Aceh, NTB, Gorontalo, Manokwari, Kalimantan, dan Maluku. Uniknya mereka belum pernah ke Jawa, apalagi menginjakkan kaki ke Yogyakarta. Belum pernah sama sekali. Oleh karena itu sebagai tuan rumah yang baik, kita ajak mereka mengunjungi tempat tempat yang menjadi ikon Yogyakarta.

    Pertama kami pergi ke Candi Prambanan, jangan tanya kenapa bukan ke Borobudur. Hello, Borobudur bukan di Yogya. So kami promosi obyek di Yogya saja. Oke, Fik. Candi Prambanan menjadi tujuan destinasi pertama. Candi yang sangat menarik bagi wisatawan domestik ini kurang greget ketika para petugas kurang ramah. Tidak ada seulas senyum pun tersungging di wajah mereka. Apakah mereka tidak dilatih tentang 5S atau excellent service sehingga begitu dingin wajahnya. Sayang sekali. Padahal ini termasuk jual jasa lho.
      Kemudian yang kedua keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Namun sayang, keraton saat ini masih tutup untuk persiapan labuhan. Demikian juga dengan taman sari, tidak bisa kami kunjungi.
  Obyek pindah tempat. Yang menjadi pilihan berikutnya dalah Tebing Breksi. Tempat ini sangat favorit dan malah viral beberapa saat yang lalu. Maka datanglah kami kesana. Di Tebing Breksi kami tidak bisa naik ke atas. Bus kami harus tertahan di bawah. Maka dengan jumlah peserta 22 orang kami menyewa tiga mobil. Satu orang membayar lima belas ribu rupiah ditambah onglos parkir. Cukup murah sih.
    Destinasi berikutnya adalah makan siang di Kalakijo. Tempat ini terkenal dengan inkung ayam. Kami memilih salah satu warung makan yang terkenal di situ. Namun sayang mungkin kami yang datang terlembat atau memang prepare warung itu yang kurang. Saat kami datang sayur yang ada hanya oseng-oseng pepaya, ditambah teri dan ingkung.
   Padahal kalau ada makanan lain tentu akan lebih meriah dan tidak akan mengecewakan kami. Okelah mungkin kami datang terlalu siang.
   Setelah makan dan istirahat sebentar, kami melanjutkan wisata lainnya. Sesuai rencana kami mengunjungi batik di Wijirejo. Sayangnya produksi atau tepatnya pengolahan dan acara membatik sedang libur. Sehingga kami tidak bisa melihat cara membatik yang benar. Katanya ada yang meninggal dunia jadi ya pada takziah.
     Ga papa lah, yang penting teman-teman senang. Dan memang benar, mereka pada borong batik di tempat itu. Ada yang beli 2, 3 dan 4 baju atau kain. Hum, pemiliknya pasti senang inih. Setelah puas membeli baju dan kain batik, kami lanjutkan shopping lagi. Kali ini kami menyempatkan mampir di Kerajinan Kulit Manding.
     Di Pusat Kerajinan Kulit Manding, lagi-lagi teman-teman membeli dengan membabi buta. Ada yang beli sepatu, ikat pinggang, dompet dan lainnya. Sungguh senang melihat teman-teman belanja dengan wajah sumringah. Entah berapa duit mereka habiskan hari ini.
     Setelah diopyak opyak untuk berhenti, teman-teman akhrinya berhenti dan berkumpul di bus. Kami harus melanjutkan perjalanan sebab masih ada satu lagi tempat yang wajib kita kunjungi. Yups, kami mengunjungi Toko Buku.
   Sungguh aneh bila kami (sebagai guru dan pendidik) hanya suka belanja barang konsumtif dan tidak suka buku. Buku itu jendela ilmu. Pendidik itu harus dinamis dan gemar membaca agar siswanya bangga saat mendapati gurunya wawasannya luas.
Begitulah keseruan kami hari ini

YANG MEMBUAT BAPAK SAJA, BU

   Setelah singgah di perpusda, aku biasanya menyempatkan diri minum es kopi. Sebenarnya tidak seratus persen yang dijual kopi semua. Sebab ada juga creamer yang dibuat beberapa varian. Dan ternyata, saat memesan selalu berbeda tastenya. Hum, kenapa ini kok setiap beli selalu berbeda rasa yang kudapatkan.
    Selidik punya selidik, kokinya yang bikin beda cita rasanya. Sebagai bartender jalanan, ada yang berbeda. Baru kutahu bahwa penyaji perempuan dan laki-laki berbeda. Tangan cowok rupanya bisa membuat es kopi lebih enak. Beda dengan es kopi yang dibuat ibu penjualnya.
    Maka hari ini, aku beranikan diri untuk meminta pelayanan khusus.

"Maaf Bu, yang membuat Bapak saja," pintaku dengan perasaan deg degan.

    Bagaimana tidak gemetar sebab ibu penjual sudah mempersiapkan gelas plastik dan akan membuat es kopi. Tapi ya bagaimana lagi, bapak penjual lebih enak racikannya. Begitulah yang kurasakan. Ibu penjual mengiyakan dan memasrahkan pekerjaannya kepada suaminya. Beberapa kali aku meminta maaf atas permintaan yang aneh itu. Ya, memang jarang di Indonesia ini berani "ngarani" meminta perlakukan khusus dan di luar kebiasaan umum.
     Biarlah. Memang aku ingin mendapatkan yang terbaik dan terenak. Dan itu hanya bisa kudapatkan bila bapak penjual yang meraciknya. Mungkin ini juga yang membuat banyak laki-laki menjadi koki. Lihatlah di restoran atau hotel, pasti kebanyakan chef atau juru masaknya laki-laki.
    Kalau pun ada perempuan pasti bisa dihitung dengan jari tangan. Itu pun laki-laki lebih mendominasi. Terasa aneh enggak sih, laki-laki malah piawai memasak. Padahal di kehidupan sesungguhnya, perempuahlah koki sejati di rumah.
    Namun di dunia bisnis dan jasa pelayanan makanan, laki-laki lebih mendominasi. Seperti es kopi ini yang lebih enak saat dibuat bapak penjualnya. Hum, luar biasa.

DEMI PENAMPILAN SEORANG GURU

    Menjadi abdi negara, terutama pendidik di Bantul harus banyak yang diingat. Apa yang diingat? Salah satunya yang harus diingat adalah penampilan. Penampilan? Ya. Kalau tidak mau diketawain teman-teman dan siswa maka berpenampilanlah sesuai hari dan momennya.

Bantul memiliki aturan yang berbeda dengan negara lain, eh tempat lain. Kalau di belahan bumi lain (baca : daerah lain) baju hijau satpam tidak dipakai, bagi daerah kami tetap dipakai.

    Kami memakai baju ijo lumut itu setiap Senin. Jadi kalau Senin ngumpul untuk upacara, maka kami tampak seperti agar agar atau pudding hijau. Kadang orang menyebutnya pudding pandan wangi.
   Itu Senin. Kalau Selasa beda lagi, kita pakai baju kuning keki. Keki itu istilah saja bukan sejenis sifat sirik atau iri hati ya?  Lalu Rabu, kita memakai baju biru dongker. Ini juga istilah warna saja, bukan nama artis film; siapa itu Adipati Dongker. Bukan. Jangan salah ya?
    Selanjutnya Kamis, kami pakai baju batik. Terserah batiknya. Mau parang rusak, parang wedang atau parangtritis. Bebas. Kemudian hari Jumat, kami harus pakai baju putih dan celana hitam. Atau kalau mau, kita boleh pakai seragam olahraga. Dengan catatan; kaosnya berwarna putih. Begitulah ketentuan seragam di daerah kami.
    Eh, iya itu belum ditambah dengan hari-hari atau momen tertentu. Pas tanggal 17 tiap bulan, kami memakai baju korpri. Tanggal 20 tiap bulan, kami memakai pakaian adat dan setiap tanggal 25, kami memakai baju seragam PGRI. Hum, cukup rumit ya? Begitulah

Lah, kalau lupa?

Kalau lupa ya nasibnya sama kayak saya pagi ini, harus balik pulang dan berubah menjadi seperti di bawah ini. Untung tidak tiap hari salahnya

Jumat, 07 September 2018

MAKANAN GURU YANG MUBAZIR

     
     Setiap kegiatan entah itu workshop, diklat atau yang lain, selalu saja ada kegiatan makan snack atau makan besar. Mungkin tidak masalah ketika makanan sudah tersaji dalam dus atau tempat makan. Baik itu makanan kecil atau makanan berat. Sebab dengan terbungkus rapi seperti itu maka kita bisa membawa pulang saat makanan tersebut tidak habis. Kita bisa membawanya sebagai oleh-oleh atau diberikan orang lain. Pokoknya makanan itu bisa "diselamatkan."
     Beda kasus bila makanan dalam kegiatan edukatif itu prasmanan. Kita bisa memilih makanan apa saja. Dari makanan pembuka sampai makanan penutup, semua tersedia. Kita bisa memilih sesuka hati dan memilih yang disenangi. Namun sayangnya, banyak orang yang tidak memperhitungkan kekuatan perut. Banyak saya lihat orang mengambil semua makanan. Makanan tertumpuk penuh di sebuah piring. Bahkan hampir semua makanan dimuat dalam sebuah piring yang terbatas. Dalam bayangan saya, apa mungkin semua akan termakan habis? Mengingat semua makanan dibawa ke meja makannya. Belum minuman dan desertnya.
    Ya, Allah. Apa yang kukhawatirkan terjadi. Banyak makanan yang tidak dimakan dan tersisa sia-sia. Tidak tertuntaskan. Ada yang sudah secuil dirasakan. Ada yang masih utuh dan bertumpuk rapat dengan makanan yang lain. Semua makanan teronggok sempurna di atas piring. Lalu pertanyaannya, apakah ada yang mau mengambil atau memakannya? Tidak ada yang akan mengambil dan memakannya sebab bukankah itu makanan sisa. Meskipun kondisi makanan tersebut masih utuh. Jadi menurut saya makanan seperti itu sia-sia belaka. Makanan yang terlihat utuh tapi tetap menjadi sampah. 

Selasa, 28 Agustus 2018

GURU MITRA 1 SMP

   
    Tahun ini dapat pekerjaan baru sebagai guru mitra 1. Apa sih guru mitra 1 itu? Hum, apa ya? Ya kurang lebih guru yang saling berbagi. Guru mitra 1 berbagi pengalaman mengajar kepada guru mitra 2. Kemudian guru mitra2 mengajarkan pengalaman kepada guru mitra 3. Kita akan saling berbagi pengalaman. 
     Untuk memperlancar tugas guru mitra 1, kami diundang di Hotel Savero, Bogor Jalan Pajajaran.

Minggu, 10 Juni 2018

PENGUMUMAN PEMENANG MENULIS BUKU BACAAN 2018

    Alhamdulillah wa syukurilah, bisa terpilih dari 73 penulis bahan bacaan. Enggak yangka saja dari 1.300 peserta bisa terpilih. Padahal lho ya merasa bukuku biasa saja, malah photo yang kugunakan hanya menggunakan kamera HP. Terus ngirimnya juga mepet, terus masih ada beberapa yang diperbaiki. Tetapi ya itu tadi, kalau Alloh sudah bilang kun fayakun, ya jadilah. Menjadi pemenang. Perjuangan selama ini terbayar sudah. Dari mendatangi narasumber yaitu dua siswa yang berprestasi. Kemudian menuliskannya. Merubah tulisan dengan bahasa Aku, jadi menjadi POV 1.
    Kemudian tulisan jadi, kirimlah ke layouter. Nah, di sini juga ada yang menolong mencarikan layouter. Beberapa kali membetulkan layout buku, karena kurang ini dan itu. Akhirnya menyerah, sudahlah kesalahan kesalahan kecil lupakan saja. Sebab waktu sudah mengejar. Oiya cover buku sudah jauh-jauh hari pesan sebab ada teman yang mampu bikin cover. Alhamdulillah kedua duanya (cover dan layout) jadi dua hari sebelum deadline. 
    Padahal yang dikirim bukan file tetapi hardcopy. Itu artinya panitia hanya menerima bentuk fisiknya. So, itu harus dicetak lebih dari tiga. Walaupun panitia hanya menghendaki tiga exemplar yang dikirim. Tetapi masak aku tidak menyimpan atau mempunyai bukti buku tersebut. Akhirnya aku cetak 8 exemplar buku di jalan Gejayan. Meluncurlah aku ke sana siang itu. Dengan sedikit paksaan ke toko tersebut, agar diselesaikan besok siang. Artinya hanya sehari sebab aku tidak boleh terlambat mengirim. Kan deadline cap pos hari itu. Tidak boleh telat.
    Hari berikutnya, aku datang ke toko tersebut dan jadilah. Aku ambil setelah itu pergi ke kantor pos. Setelah lengkap, dikasihkan amplop dan kirimlah. Kelarlah semua, tinggal berdoa. Kalau dihitung-hitung kemarin itu habis 800ribu. Engga papa lah habis segitu. Kan sekarang aku dapat hadiah 10juta. Asek. Belum ditambah diundang ke Jakarta dua kali. Undangan pertama nanti tanggal 18 - 20 Juni 2018. Pasti deh pulang dari Jakarta masih dikasih sangu wkwk. Ngarep.com 

Selasa, 22 Mei 2018

PENGUMUMAN PEMENANG MENULIS ARTIKEL 2018

    Beberapa waktu yang lalu ada pengumuman tentang lomba menulis artikel dari Kantor Bahasa Kepulauan Bangka Belitung. Tersebab di situ disebutkan dapat diikuti semua orang, artinya semua masyarakat, termasuk aku, maka aku pun mengikutinya. Walaupun terus terang saja, hadiah tidak terlalu besar, hanya Rp. 750.000 rupiah tetapi tak apalah. Ya, paling tidak nulisku jalan dan kemampuanku bertambah. Kalau pun menang itu suatu bonus. 
     Ketentuan dalam lomba, kita harus membuat artikel, ini ceritanya non fiksi, tentang kebudayaan atau potensi yang ada di Pulau Bangka dan Belitung. Ada juga sih naskah yang berupa fiksi. Nah, kebetulan yang kutulis adalah non fiksi. Kenapa? Sebab aku merasa lebih PD ketika menulis non fiksi. Sementara yang fiksi perlu di asah lagi. Maka segeralah aku menulis. Susah? Jelas. Wong Bangka Belitung itu bukan tempat tinggal dan juga belum pernah ke sana, jadi yang agak terkendala ketika menulis artikel tersebut.
     Untungnya, sekarang ini sudah ada mbak Google jadi kita bisa belajar dari sana. Mulailah aku mengumpulkan bahan-bahan, lalu memilih tema yang sesuai dan jitu. Paling tidak apa yang kutulis itu sesuatu yang bermanfaat. Tidak asal nulis atau asal kirim. Sebab asal nulis atau asal mengirim itu sama saja dengan bersusah susah mengerjakan hal yang sama. Bedanya hanya serius sama main-main. Lah, kalau kedua hal tersebut membutuhkan pemikiran yang sama, waktu yang sama dan enerji yang sama. Sayang sekali kan, sama-sama berkorban cuma tidak fokus atau serius yang satunya.
    Oleh karena itu, berbekal pemahaman tersebut, mulailah aku mencaritahu tentang keunikan Bangka Belitung. Dari sekian referensi yang kukumpulkan, aku tertarik dengan budaya kawin massal masyarakat Bangka Belitung. Nikah massal tersebut kalau dilestarikan dan dikelola dengan baik akan mendatangkan manfaat dari segi ekonomi, agama dan sosial. Jadi nikah massal yang dibiayai pemerintah daerah tersebut perlu dilestarikan. Apalagi pergaulan kidz zaman now yang cenderung menyerempet nyerempet bahaya, sangat cocok diarahkan di sana. Maka kutulislah tentang budaya nikah massal tersebut.
    Alhasil, Alhamdulillah, aku termasuk pemenangnya. Agak mengagetkan juga aku bisa menang. Terlebih lagi aku satu-satunya wakil dari Yogyakarta yang menang bidang non-fiksi. Dalam bayanganku dan ketika membaca pengumuman lomba, tertulis akan ada fasilitasi. Fasilitasi ini dimaksudkan untuk menyempurnakan tulisan kita. Jadi dalam anganku, aku akan diundang ke Bangka Belitung untuk merevisi tulisanku. Terlebih di situ, tertera fasilitasi selama tiga kali. Jadi aku bisa datang ke Bangka Belitung berkali-kali. Ah, itu khayalanku saja. Setelah aku crosh check ke panitia ternyata mereka tidak sanggup membiayai para pemenang di luar kepulauan Bangka Belitung.
    Jadi untuk pemenang di luar Bangka Belitung tidak ada fasilitasi. Bila pun ada revisi maka akan ada pembenahan lewat online, terus hadiah akan di transfer. Pupus sudah niatku untuk jalan-jalan ke Bangka Belitung. Tetapi sudahlah mungkin belum rezeki travelling ke tanahnya @Andrea Hirata. Mungkin lain kali. Bagaimanapun, aku tetap bersyukur bisa menang dan meraih hadiah ratusan ribu rupiah. Ya, minimal itu menjadi penyemanagat aku dalam menulis artikel, Ada juga sih beberapa teman yang menang dalam lomba tersebut. Ya, teman seperjuangan. Inilah hasil pengumuman pemenang di Kantor Bahasa Kepulauan Bangka Belitung. Silakan klik di sini.

Rabu, 02 Mei 2018

PENGUMUMAN LOLOS SEMINAR MILENIUM TAHUN 2018

   Ini tahun kedua, aku mengikuti Seminar tingkat nasional. Seminar yang kemarin, tepatnya tahun kemaren juga diadakan oleh Kemendikbud. Nah, kalau mau informasi yang lengkap dan akurat, terutama infor seminar, lomba-lomba dari Kemendikbud, segera deh daftar ke webnya kesharlindungdikdas. Selama aku gabung ke web tersebut, banyak kok informasi tentang kegiatan dari Kemendikbud.

    Kegiatan yang diadakan Kemendikbud tentu gratis dan semua keperluan kita dilayani panitia Kemendikbud. Termasuk biaya transportasi, akomodasi dan uang saku, eh uang saku dapat enggak ya? Kayaknya dapat deh. Tahun kemarin aku juga dapat, walaupun tidak banyak. Tetapi lumayanlah untuk beli oleh-oleh keluarga atau kerabat dekat kita. Nah, kali ini sudah dilaksanakan lomba Seminar dengan berbagai tema.

    Sayangnya, aku sendiri tidak lolos dalam seminar ini. Kemarin aku mengirimkan naskah jenis kajian teori tentang ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Mungkin tulisanku kurang bagus atau memang temanya sudah tidak in lagi. Jadi dalam lomba atau call for paper seperti ini, memang tema tulisan kita menjadi daya tarik sendiri. Wong tahun lalu saja, aku lolos. Kenapa tahun ini tidak. Atau jangan-jangan, yang sudah lolos tidak akan diloloskan lagi. Bisa jadi begitu kan? Wkwk ini cara menghibur diri sendiri.

    Okelah, bagi kalian yang kemarin mendaftar Seminar Kemendikbud tahun 2018, ini nih pengumumannnya. Kali ini Seminar dilaksanakan di Hotel Milineum. Eh, sudah tidak sabar untuk melihat apakah kamu termasuk 200 peserta yang lolos atau tidak, klik link berikut Pengumuman Lolos Seminar Kesharlindungdikdas

Selasa, 01 Mei 2018

APA ITU PERSONAL BRANDING?

Sore ini rencana, mau pergi potong rambut. Tersebab siang tadi sudah ke tempat potong, orangnya tidak ada. Bukannya tidak ada orang di Barbershop itu, ada sih beberapa pemangkas yang lain. Tetapi orang yang menjadi langganankuu tidak ada.
Aku sudah cocok dengan caranya memotong. Rapi potongannya dan terlihat elegan. Jadi yang wajahku biasa saja ini terlihat sedikit lebih ganteng. Halah.
Saat dia tidak ada, aku pun mengurungkan niat. Bukannya tukang potong yang lain jelek, bukan. Cuma kurang bagus. Makanya aku sudah beberapa kali, berlangganan dengan tukang potong ini. Cocok sih. Mak klik gitu. Jadi bertahan sampai sekarang.

Kalau ditarik benang merah, ini hampir sama dengan profesi apa pun. Termasuk seorang penulis. Bila pembaca sudah Mak klik maka akan ditunggu buku-buku yang lainnya dan buku berikutnya. Pokoknya apa pun yang telah ditulis dan diterbitkan akan dicari. Sebab dia yakin hasil karyanya pasti bagus dan berkualitas.

Termasuk buku-buku yang lalu. Bahkan bukunya yang tidak terkenal pun menjadi laris dan dicari. Itu tersebab dia sudah memiliki branding produk yang berkualitas.

Aku rasa semua orang mempunyai branding sendiri-sendiri. Begitu juga seorang reseller, reseller apa pun. Saat para customer atau buyers sudah cocok. Sudah deh, dia akan menjadi langgananmu. Kalau mencari apa pun, maka namamu menjadi list pertama yang akan dicari. Percaya deh.

Makanya kalau jadi reseller yang amanah saja. Untung dikit enggak papa yang penting ajeg, stabil. Mending gitu kan?
Bagaimana dengan presiden kita? Ups, tahun politik ya? Menurutku brandingnya masih; kerja kerja kerja. Beda dikit dengan aku. Kalau aku kerja gajian, kerja gajian, kerja gajian. Enggak mau lah aku suruh kerja terus tanpa gajian. Eaa.
Kembali ke penulis buku. Kok loncat loncat sih. Nah, ini personal branding ku seneng loncat-loncat.  Bagaimana kalau penulis itu mempunyai pasukan penulis? Mempunyai co-writer atau ghost writer seperti Tere Liye misalnya. Misalnya lho, jangan dibully. Du Du du