Senin, 30 Mei 2016

UJIAN NASIONAL SEKELAS UJIAN HIDUP?

    Banyak siswa kita yang merasa tertekan, kalau tidak dibilang stess menghadapi Ujian Nasional. Biarpun sekarang UN bukan lagi penentu kelulusan tetapi tetap saja menjadi momok karena dari hasil Ujian Nasional itulah para siswa dapat memilih dan menentukan mau sekolah atau kuliah dimana. Jika nilai UN yang diperoleh bagus maka otomatis dia bisa sekolah yang dicita - citakan. Tetapi jika nilai UN tidak bagus, maka musnah sudah harapan hidupnya. Bahkan ada yang bunuh diri karena tidak siap menghadapi kenyataan. Seakan hidupnya tergantung dari ini UN.
    UN tetap menjadi momok, tetap menjadi algojo pencabut masa depan walaupun bukan menjadi tolok ukur kesuksesan namun itu merupakan suatu kebanggan bersama jika nilai UN tinggi. Lihat saja euforia para siswa dari SMP dan SMA, malah ada juga di dunia maya itu anak SD melakukan selebrasi setelah mengikuti USBN dengan mencorat coret bajunya. Siapa yang mereka tiru? Pasti kakak - kakak kelasnya. Setelah mereka dapat melewati UN dan mengetahui hasilnya, mereka tidak perduli apakah nanti dapat diterima di sekolah atau universitas yang diinginkan. Yang penting hari ini plong, gembira karena satu tugas telah selesai, satu kewajiban telah dijalankan, satu beban telah diturunkan, itu yang ada dipikiran para siswa kita. Kalau untuk besok, maka dipikirkan besok saja. Begitulah, tingkat tekanan yang dihadapi para siswa kita. Mereka tidak memandang bahwa pintar iti wajib, belajar itu harus, nilai hanya salah satu indikator kita bahwa kita telah belajar. Poinnya bukan nilai UN, intinya bukan hasil UN tetapi mereka perlu melewati proses yang panjang, proses yang baik, jujur dan bertanggung jawab. Sebab apa? Sebab ujian sebenarnya adalah ketika mereka nanti hidup dalam masyarakat dan mengalami berbagai ujian hidup dan mereka dapat survive karena mereka telah belajar di sekolah. Jadi UN adalah salah satu ujian hidup, ujian hidup lebih komplek dan kelasnya lebih tinggi dibandingkan UN. Anda setuju?

KENAPA HARUS RIYA?

    Rasanya sangat sebel ketika setiap membuka komen group WA, yang ada orang itu, orang itu lagi dengan segala aktvititas. Itu belum seberapa apa yang dia upload, dia posting benar - benar urusannya pribadi, bukan orang lain, bahkan kalau orang lain taupun tidak ada manfaatnya. Kebayang tidak ada orang yang memposting rencana dia mau pergi umroh, dari mulai daftar dia posting kuitansi, ya..kuitansi yang disitu tertera nominal sekita juta. Itu posting pertama, o..itu yang kedua, yang pertama dia tanya ke forum bagaimana caranya mencari ijin melaksanakan ibadah umroh. Padahal dia sudah darang ke rumahku (sabar..wuusah..wusha) dan sudah aku kasih penjelasan syarat - syarat dan juga contoh suratnya. Seharusnya cukup itu saja kan? Tidak perlu posting lagi di forum, menanyakan ada yang tau tidak dengan alasan informasi yang aku kasih hilang dan terhapus hadech :3 Berhubung aku berbaik hati cie..cie maka aku coba menjelaskan lagi dalam forum itu bla..bla dan kalimat terakhir kutulis "maaf ini bukan riya ya? " Harapan aku, aku terbebas dari sifat riya, minimal menghibur diriku sendiri :D. Nah kalimat terakhirku inilah yang agak sedikit mengena di hatinya, dia pun ikut - ikutan menyatakan bahwa dia juga riya. Semoga saja. Kupikir postingan itu berhenti karena dia juga takut riya ternyata tidak. Pertempuran baru saja dimulai jeng...jeng.
    Serangan riya tidak cukup sekali, kali ini memposting kuitansi tadi yang terdiri 2 lembar tertera disitu nominal 31 juta untuk satu lembar ckck..mau pamer hai? Aku rasa teman - teman hanya bersabar dan memaksa diri sendiri untuk memaklumi spesies seperti apa sih yang mereka hadapi? Xi..xi. Hanya ada beberapa yang mengucapkan selamat atas niatnya naik umroh. Mungkin dalam hati teman - teman cukuplah dan sudahlah, posting yang lain. Ternyata penderitaan teman - temanku belum berakhir, selanjutnya dia memposting baru belajar ngaji du masjid kalau ga salah. Kemudian dia memposting tentang pesanan roti untuk pengajian menjelang keberangkatan umroh (emang penting kita ketahui hello?), dilanjutkan undangan pengajian di rumahnya yang terus terang saja tidak ada anggota group WA yang diundang ugh...Beberapa saat yang lalu dia juga memposting kegiatan manasik umroh wushah..wuushah. Dilanjutkan memposting kertas yang bertuliskan siapa saja yang mau menitip doa (hadech..ada ga air es untuk menyiram kepala, biar dingin he..he). Dan yang terakhir, dia memposting surat himbauan dari biro travel yang dia pilih ( plis dech...uwes..uwes)
    Dalam pandangan penulis, kegiatan - kegiatan yang bernilai ibadah tidak perlulah orang lain tau sebab ibadah itu urusan umatnya dengan Tuhannya. Tidak perlu orang lain tau, untuk apa tau? Takutnya bukan syiar atau kebaikan yang kita perolah tetapi riya, ujub dan merasa paling suci. Ketaatan dan kesucian dalam hal agami itu, menurut saya tidak bersifat publik artinya kita dinilai ibadah kita baik jika perbuatan kita baik. Sehingga ibadah kita itu telah diimplementasikan dalam kehidupan sehari - hari. Jadi orang mau menilai kita seperti apa itu hak orang tetapi kita harus memastikan bahwa perbuatan kita itu baik dan benar, tidak perlu orang lain tau, atau malah kita sengaja memberitau. Kita mau ibadah apa kita mau pamer? Semoga kita dijauhkan dari sifay riya, ujub dan merasa paling di antara orang lain. Amin

Minggu, 29 Mei 2016

MELEGAKAN HATI

 


Juara Hafalan Utrujah
Syukurlah itu yang perlu kuucapkan setelah mengetahui anak bungsuku terpilih menjadi salah satu dari 5 anak yang  telah hafal huruf hijaiyah (utrujah). Sungguh hal ini melegakan hatiku sebab aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang kepala rumah tangga tidak pernah menuntut anak - anakku menjadi juara. Tidak. Tidak pernah. Aku tidak pernah berharap anak anakku cerdas tetapi agamanya kandas. Sekolah boleh sarjana tetapi agama TK. Tidak seperti itu. Aku selalu berharap agama anak - anakku di atas rata- rata, minimal rata - rata orang tuanya. : D
    Percuma aku menyekolahkan di yayasan Islam Terpadu, yang berangkat pagi dan pulang sore, yang biayanya lebih mahal dari sekolah reguler. Namun semua terbayar ketika kemaren Mirza Anlaqi Jannu (3th sekian bulan) diumumkan menjadi perwakilan kelasnya dan terbaik sudah hafal huruf hijaiyah. Melegakan sekali, dia sudah menunjukkan prestasi di usia muda, dia yang selalu bersemangat menghafal huruf itu, hampir tiap malam. Maklumlah anak - anak masih excited dengan hal baru dan semoga ini berlanjut sampai dia dewasa. Masih ingat betul aku ketika dia dengan antusias meminta untuk direkam setiap aktivitas membaca huruf hijaiyah di rumah. Sekarang hasilnya sudah ada. Hasilnya cukup menggembirakan dan membuat ayahmu ini bangga.
    Aku jadi ingat Musa, si penghafal 30 juzz Al-quran, pasti orang tuanya orang - orang yang hebat mempunyai komitmen yang kuat dalam membimbing anaknya menjadi seorang hafizd. Jadi pingin iri. Hebatnya lagi Musa ini dilarang melihat Televisi, ini ide yang brillian dan masuk akal. Apa sih yang kita peroleh dari televisi? Apalagi bagi anak - anak. Ya Alloh jadikan anak - anakku pribadi yang selalu bertaqwa kepadamu dan menjadi anak - anak yang sholeh (anak lakiku) dan sholekhah ( anak perempuanku). Amin

Sabtu, 28 Mei 2016

AYO BERJUANG UNTUK ICT CAMP NAK!

   
Kegiatan ICT Camp 2016
    Hari Selasa, 24 Mei 2016 adalah hari yang mungkin ditunggu - tunggu anakku untuk ikut ICT Camp dari BTKP Yogyakarta. Setelah dia berusaha untuk mengikuti lomba tersebut, ya memang aku pikir dia telah berusaha sekuat tenaga malah. Aku tidak terlalu repot mengajari anaku untuk membuat power point karena dia memang cepat belajar dan mudah menangkap. Maklumlah anak jaman sekarang kalau soal teknologi kita sering kalah, kalah jauh malah. Dalam lomba tersebut, semua peserta harus membuat power point yang isinya tentang pendapat siswa terhadap 4 video yang ada di jubetub ( jogjabelajar.com).
    Aku tidak perlu mengarahkan atau memberitahukan tentang tugasnya. Karena aku yakin dia mampu dan memang cukup kreatif sehingga aku rasa dia mampu tanpa pertolonganku. Akhirnya dia membuat penilaian dari 4 video yang aku donlotkan dari jubetube. Dari video ter

Jumat, 27 Mei 2016

10 IDE TULISAN YANG KEREN

    10? Ah. angka genapkan? Semoga menggenapkan semangatku untuk menulis sebuah buku. Ya..bermula dari ide, ide yang terlintas, mungkin juga ide yang sederhana namun aku yakin dari kesederhanaan ide tersebut, aku merasa tertantang untuk membuat ide yang sederhana menjadi ide yang wah dan renyah. Akhirnya terwujudlah aku menjadi penulis best seller (mulai mengkhayal tingkat tinggi he..he). Nanti namaku terpampang di setiap toko - toko xi..xi. Photoku nanti akan ada di koran, di majalah, di pamflet dan mungkin juga di televisi. (Stop!!! Fokus ke tugas). Tugas!!! Ups maaf terlalu bersemangat untuk menulis, padahal kalau sudah menulis sering loncat - loncat dari ide satu ke ide satunya. Satu buku belum kelar, ganti lagi ke buku yang lain sehingga buku belum tamat - tamat juga. Kasihankan pemeran protagonis digantung - gantung, menang tidak kalah juga tidak. Jadinya sebagai pemeran utama malah duduk di pojok sambil ngopi - ngopi dan merokok (Oh..tidak, pemeran utama, lakon tidak boleh merokok) kasihan anak - anak teredukasi yang tidak baik. O..ya pemerannya ngopi sambil baca buku, dia menunggu sutradara (baca: penulis) memanggil namanya untuk pengambilan adegan. (Maaf...apakah ini film? xi..xi)
    Sorry terlau lebay saya, padahal kalau mau bisa saja saya tuliskan judulnya langsung tidak perlu muter - muter bikin capek. Eit..tetapi kalau anak saya itu sukanya muter - muter, keliling, kota - kota dan beli jajanan yang dia sukai. Dia selalu ikut walaupun dia belum mandi, makanya sebagai salah satu syarat dia ikut saya adalah dia harus mandi terlebih dahulu. Kalau belummandi maka dia harus stay dan good bye, aku tinggal untuk jalan - jalan. Sendiri? Enggalah aku masih punya anak satu lagi yang sulung, yang cantik setelah ibunya he..he. Dia juga gemar ikut jalan - jalan, entah naik motor ataupun mobil. Anehnya lagi kalau naik mobil, baik AC dinyalakan ataupun tidak dia tetap saja mabuk. Dan lebih anehnya lagi, dia tidak pernah jera untuk ikut walaupun dia harus mabuk berulang kali. Kadang saya sarankan untuk minum obat anti mabuk, dia sih mau tetapi tidak ada efeknya, tetap saja dia mabuk. Terus kita coba dengan menempel pusernya dengan plester, itupun tidak ada dampaknya, tetap saja dia mabuk. Apalagi ada ide yang lebih konyol lagi dari mertua yaitu anak diminta makan ubi jalar, dia yang tidak biasa makan ubi jalarpun mau, namun hasilnya tetap sama, dia tetap mabuk. Akhirnya kita biarkan saja yang penting dia nyaman dan tidak mengeluh walaupun beberapa kali mabuk, yang jelas kita usahakan habis dia mabuk, kita tawarkan makan lagi :D. biar perutnya tidak kosong. Itulah secuil peristiwa, walaupun kita dapat masalah namun dari masalah itulah kita mempunyai ide. Ide sering datang saat kita terdesak atau kepepet, pantas saja ada buku laris the power of kepepet. Buku yang best seller, menurutku, dan aku berharap ideku ini nantinya menjadi buku yang best seller. Amin.
    10 ideku untuk menulis sebuah buku yang sebagian besar buku non-fiksi sebab aku mengalami kendali untuk menulis buku fiksi. Aku kurang mahir dalam berimaginasi, bukan berimaginasi tetapi memunculkan adegan percakapan yang asyik dan masuk akal. Ups..langsung saja ini ide saya untuk tugas di Komunitas Menulis Online:
  1. Super Teacher
  2. Mengakali Ujian Nasional Bahasa Inggris
  3. Belajar KIR yang menyenangkan
  4. Sukses setelah lulus SMA
  5. Di balik 13 (Non fiksi)
  6. Jurnalistik untuk anak sekolah
  7. Anakku, Eksperimenku
  8. Why do I love me?
  9. Nama unik untuk anak kita
  10. 99 reason why do I love Allah
Sebenarnya masih ada beberapa judul yang lagi tetapi itu saja toh yang diminta cuma 10 dan 10 judul itu kalau bisa jadi buku sudah luar biasa senangnya. Semoga malaikat mengamini doaku dan semesta alam mendukung niat. Semangat, ganbate!!!

27 MEI, ANTARA AKU DAN NENEKKU

    Hari itu, tanggal 27 Mei 2006, hari yang akan diingat oleh orang - orang di Bantul, akan selalu diingat. Kejadian kehilangan yang luar biasa, kejadian yang dasyat, memisahkan suami dan istri, orang tua dan anak, kakek-nenek dan cucu. Seperti aku, yang harus merelakan nenek pergi untuk selama-lamanya. Ya...karena tanggal itu, hari itu dimana bumi Bantul digoncang gempa dasyat 5,9SR. Mungkin ada yang melebihi besaran goncangan tetapi bukan itu inti permasalahannya. Tetapi akibat yang ditimbulkan gempa tersebut sangat - sangat parah. Hampir semua di sekitarku rata dengan tanah. Rumah sakit banjir pasien, sampai pasien ditaruh dijalan jalan. Semua luka parah karena yang luka ringan pasti sudah ikut mengungsi karena ada isu stunami. Ah...tega nian orang yang memberi isu tersebut.
   Hari itu aku kehilangan seorang nenek, nenek yang meninggal karena tertimpa tembok yang sudah lapuk. Aku tau memang nenek tersebut tidak terlalu dekat denganku namun beliaulah tinggal satu - satunya nenek yang kumiliki. Aku juga yakin aku bukanlah cucu kesayangan beliau, ada cucu yang lebih disayang kata ibuku sih. Aku percaya saja, wong sama aku juga beliau kurang sayangnya. Bagaimanapun biarlah. Bukankah aku tidak perlu membalas sama seperti beliau. Justru aku harus menunjukkan pada beliau kalau aku cucu yang baik hati dan bisa diandalkan. Nanti beliau juga menyadari bahwa ada cucu laki - lakinya yang tulus menyayanginya. Tanpa pamrih. Harus jelas itu.
    Tetapi bagaimana beliau menyadari tentang usahaku kalau beliau sudah tiada? O..iya mungkin beliau di atas sana menyaksikan semua niat baikku ini. Semoga saja beliau tidak menyesal telah salah memilih cucu yang salah. Oleh karena itu aku akan mengirimi beliau doa - doa dan Al fatehah, biar beliau tenang di sana. Mungkin sekarang beliau menitikan airmata atas semua baktiku ini. Semoga saja ini meringankan siksa kuburnya dan dimaafkan segala kesalahannya.
    Aku tau sendiri nenekku tidak pernah sholat, apalagi puasa. Eit...untuk puasa nenekku rajin sekali tetapi ya itu...puasanya aneh. Puasa mutih misalnya, beliau tidak akan makan yang berwarna putih - putih seperti nasi, pake garam, air putih dan lain - lain. Kebayang engga sih makan tanpa ada garam dilauk kita? Puasa apalagi ya? O..iya puasa nebtu, yaitu puasa hari lahirnya beliau jadi pas hari kelahiran beliau puasa. Tuh...aneh bukan. Ya...itulah nenekku dengan sedikit kelebihan dan banyak kekurangan, apalagi agama nol besar. Dan kuyakin beliau penganut kejawen. Apa iti kejawen? Kejawen adalah sebuah tradisi yang ada di lingkungan Jawa, biasanya masih terpengaruh animisme dan dinamisme. Apa itu? Silahkan cari saja di google karena tulisan ini bukan soal tanya jawab. Tulisan ini tentang kisah sedih di tanggal 27 Mei, 10 tahun yang lalu.

Kamis, 26 Mei 2016

MEI YANG MEREKAH

      Aneh di bulan Mei ini bunga bunga di rumah mulai mekar dan merekah. Apakah karena hujan sudah mulai turun? Tidak. Malah tiap hari panas sekali. Namun keanehan belum juga terjawab. Kenapa? Kenapa? Apakah aku perlu bertanya kepada rumput yang bergoyang? Ah..iya saya lupa, saya tidak menanam rumput he..he. Lalu kenapa bunga ini mekar, hampir semua tanaman berbunga. O..iya ada tanaman yang tidak berbunga, tanaman yang kami pajang di ruang tamu. Tanaman plastik xi..xi (kami belinya cuma daunnya tanpa bunga).
    Aku yakin jika ada peneliti yang peka dan baru nganggur, pasti fenomena ini akan dianalisis, diobservasi dan diteliti sebab ini penting. Bayangkan saja jika peneliti itu menemukan penyebab semua tanaman di rumahku berbunga maka dia bisa mengembangkan penemuan tersebut untuk keperluan yanga lebih luas atau mungkin hasilnya penemuan dikomersilkan. Sehingga ia menjadi peneliti milyuner, seperti penemu helm anti gegar otak itu. Siapa tau.
      Yang pasti bulan ini bulan Mei, bulan sebelumnya tidak muncul, apalagi januari, yangmana orang Jawa sering membuat akronim dari hujan tiap hari. Itupun tanamanku tidak berbunga. Lalu apa? Haruskah aku mengunakan analisis mistik? Apa itu? Entahlah aku juga tidak tau, yang jelas ada hubungannya dengan dunia lain dan hal hal yang goib. Lalu kalau begitu, apa penyebabnya? Apakah mereka senang dengan kedatangan mertuaku sehingga mereka menyambut mertuaku dengan mengahadirkan bunga2 yang elok nan cantik. O...itu bisa jadi, bukankah mertuakulah yang menyirami mereka, jadi wajar kalau bunga bunga itu mekar untuk sekedar say hello atau menyambut dengan meriah. Semoga.

Selasa, 24 Mei 2016

MENGAPA AKU MENULIS?

      Pertanyaan itu terasa aneh ketik kita merasa gelisah dengan keadaan kita. Kita yang kadang merasa mempunyai solusi dan ingin berbagi, rasanya sayang kalo hanya dipendam. Bayangkan saja jika tidak ada orang yang mau menulis, mungkin kita tidak pernah tau indahnya sebuah puisi, syahdunya novel dan spektakulernya penemuan para pakar. Kita tidak dapat belajar dan juga meniru. Mungkin juga kita melakukan 3N (Nemoke, niteni dan nambahi). Kita bisa melakukan hal itu menemukan (nemoke), mengingat dan mengecamkan (niteni) dan menambahi (nambahi). Dengan melakukan 3 N dalam kegiatan literasi, maka banyak yang dapat kita peroleh. Secara pribadi saya berharap dengan ilmu 3N saya dapat mengembangan diri dengan banyak menulis, entah itu artikel, penelitian maupun buku. Semua karya tersebut punya maksud tertentu yang jelas, dapat sebagai sarana untuk menyampaikan dan berbagai pengetahuan atau ide dengan yang lain.
       Untuk artikel saya berharap dapat dimuat di surat kabar harian atau majalah dan karena dimuat biasanya kita mendapat honor. Nah dengan honor tersebut kita dapat mentraktir diri sendiri (sebagai reward untuk diri sendiri), menraktir keluarga dekat (keluar jauh tidak perlu ditraktir karena jauh he..he) dan juga menraktir teman - teman (untuk tujuan ini saya jarang melakukan, kenapa? karena jumlah fee menulis di koran atau majalah tidak akan cukup mentraktir teman - teman, juga hal ini menjadi kerepotan sendiri ketika mengundang teman - teman; intine pelit ha..ha). Untuk penelitian, saya sering melakukan penelitian dan biasanya penelitian tindakan kelas (PTK) di sekolah saya. Penelitian ini sering saya lakukan dan saya lakukan untuk mengikuti lomba, jadi hadiahnya ya bisa bepergian ke berbagai tempat dengan gratis, dapat uang transport dan akomodasi gratis.. tis ..tis. Sumpah! Ini belum kalau menang, ada tambahan penghasilan dan juga tambahan perangkat; bisa printer, laptop atau gadget yang lain. Pokoknya tidak ada salahnya kita bisa menulis, pasti ada hal yang positif yang kita peroleh tetapi jika tulisan kita juga positif.Kemudian untuk buku, saya masih penasaran dengan karya buku saya, selama ini saya sudah membuat buku bahasa Inggris tetapi masih untuk kalangan sendiri jadi belum bisa dikatakan best-seller atau lebih dari itu :D. Namun dengan perjalanan waktu, saya yakin dapat menerbitkan buku dengan konten dan penerbit yang bagus. Ga masalah itu self-publishing atau mayor publishing, yang jelas laku keras saja ha..ha (Ngarep.com). Yes!!!
       Oke dari semua pernyataan saya di atas tersebut, bisa saya simpulkan bahwa saya menulis itu karena;
  1. Saya dapat mengembangkan diri saya dan berbagai ide/pengalaman/pengetahuan kepada semua orang yang mau membaca karya saya.
  2. Saya dapat memperoleh kredit poin, berhubung saya seorang PNS maka karya tulis menjadi salah syarat untuk kenaikan pangkat sehingga siapa saja yang karyanya banyak maka akan mendapat poin banyak. Jadi hal tersebut dapat menunjang kenaikan pangkat dengan cepat dan mulus. Insya Alloh :D.
  3. Saya memperoleh kredit koin. Di samping mendapat kredit poin, saya juga Insya Alloh mendapat kredit koin. Artinya saya bisa memperoleh keuntungan finansial, bahasa kerennya duit he..he. Kredit koin yang saya peroleh bisa saja nanti menjadi harta warisan untuk anak cucu saya ha,,ha (Khayalan tingkat tinggi).
     Untuk unsur keterkenalan nama dan sosok itu salah satu akibat saja, tidak perlu disengaja. Terkenal syukur tidakpun tidak masalah, yang penting sudah terkenal di keluarga sendiri. By the way, kenapa harus terkenal kalau tidak dapat menghasilkan apa - apa atau hanya tampang doang tidak ada isi. Intinya semua kegiatan baik menulis dan lainnya kalau kita sadari dan niatkan untuk kebaikan maka semua yang dihasilkan akan berupa kebaikan. Jadi mari segera kita menulis kebaikan. Salam

Selasa, 13 Oktober 2015

MERANCANG BISNIS

  Mungkin ini pertama kali aku mencoba berdagang di tengah kerumunan orang, bahkan di tengah lapangan. Agak sedikit canggung setelah sekian lama tidak berjualan. Kalau dulu agak tidak peduli dengan lingkungan sekitar tetapi entah hari ini, Rabu 14 Oktober 2015 aku agak gimana. Ini mungkin disebabkan lingkungan yang ada di sekitar banyak yang aku kenal, dan barang dagangan yang aku bawa juga tidak begitu meyakinkan. Entah apa yang salah, apa karena melihat kiri kanan yang niat banget untuk jualan, sementara aku..ah. Apapun yang terjadi hari the show must goon tetapi besok mungkin akan kita pertimbangkan dengan lebih baik . Persiapan bahan yang lengkap , peralatan termasuk meja unruk jualan. Apa yang kita pake dan olah hari ini bersifat minimalis: buah yang ada di kulkas, tusuk siomay menggunakan tusuk sate lebaran idul adha kemaren dan barang yang laen merupakan pinjaman saudara dan tetangga. Aneh dan nekat bukan?  Namun biarlah , dengan membaca Bismillah, aku dan istri mau belajar berbisnis. Saat ini aku harus bangun, berdiri dan siap untuk semua kemungkinan termasuk merugi. Bukankah wajar dalam bisnis itu merugi? Bisnis seperti sebuah mata pisau yang mempunyai 2 sisi, tajam dan tumpul, atau berhasil dan gagal atau beruntung dan merugi. Tinggal persiapan mental yang penting untuk diperhatikan. Setelah mental siap, aku juga butuh bersemangat sehingga aku dapat memperoleh hasil yang maksimal. Itu mungkin menjadi tips jitu bagi seorang pemula biznis sepertiku.
    Setelah event jalan sehat selesai aku pikir, aku perlu meralat kata - kataku di atas. Anda tau tidak setelah acara selesai para peserta berkeliling di sekitar booth. Lalu apa yang terjadi dengan daganganku? Ternyata barang daganganku laris manis, bahkan masih ada yang menanyakan masih atau tidak. Aku memang 'hanya' jualan es teh, es buah dan batagor, namun itu semua ludes terjual semua. Mungkin moment tepat, karena banyak orang yang barusan mengikuti jalan sehat merasa capek, haus dan lapar sehingga mereka menyerbu ke standku. Kira - kira jam 9.30 WIB semua telah habis terjual, tinggal ikut menonton acara di panggung. Namun daripada melihat agenda yang kurang produktif mending untuk beres - beres persiapan pulang. Alhamdulillah bawaan berkurang banyak. Rejeki mah sudah ada yang ngatur. Sepintas aku sendiri ragu dengan apa yang aku lakukan, tetapi Alloh nenunjukkan kuasanya.
    Terimakasih ya Alloh atas rejeki yang Kau berikan hari ini.

PENGUMUMAN JUARA LKJS TAHUN 2015

Pada hari Kamis, 8 Oktober 2015 merupakan hari yang membanggakan bagi para sisw
a termasuk guru pembimbing. Betapa tidak, malam Kamis tersebut adalah malam penganugerahan prestasi lomba LKJS (Lomba Karya Jurnalistik Siswa) tahun 2015. Dari 39 finalis LKJS ada 2 peserta dari DIY, salah satunya kami, SMPN 2 Bambanglipuro. Dari awal kedatangan kami harus banyak berkurbang: meninggalkan UTS, keluarga dan binatang peliharaan he..he. Namun jerih payah dan pengorbanan telah terbayarkan. Dendam telah terbalaskan. Sebab kami pernah mengikuti tahun lalu dan belum beruntung tidak mendapat satu kejuaraan. Alhamdulillah tahun ini kami lebih beruntung, kami meraih juara 2 dan berhak mendapat 1 trophy,  3 medali dan uang pembinaan sebesar 12 juta. Maaf saya mungkin berulang kali menyebut hadiah, seperti dalam postingan sebelumnya. Bagaimana tidak hadiah tahun ini meningkat 100% dibandingkan tahun lalu.
     Kalau tahun lalu dengan posisi sama juara 2, siswa memperoleh 3 medali dan uang pembinaan sebesar 6 juta dipotong pajak. Maka temen - temen pembimbing geleng geleng kepala ketika mengetahui kenaikan hadiah lomba..ups bukab hadiah tetapi uang pembinaan. Syukurlah kami menjadi salah satu finalis yang mendapatkan rejeki tersebut. Semoga uang itu dapat bermanfaat terutama anak - anak.

Sabtu, 10 Oktober 2015

Belajar dari lupa

  Pada tanggal 5 Oktober 2015 Tuhan menunjukkan kuasanya bahwa apa yang kita anggap kesalahan atau kelupaan merupakan keslahan. Itu memang lupa tetapi itu bukan kesalahan namunb itu peringatanbAlloh bahwa yang nampak baik itu benar dan baik. Sebaliknya yang nampak tidak baik dan kesialan ternyata petunjuk dan peringatan dari Alloh. Contohnya begini ketika kami berangkat untuk lomba LKJS tahun 2015 aku dan anak- anak berencana membawa handycame untuk meliput dan membuat film dokumenter kenang -kenangan selama lomba. 
    Alloh berkehendak lain aku dan anak-anak lupa untuk membawa handycam namun kami tidak lupa untuk membawa kamera. Aneh bukan? Kami berpikir positif saja, mungkin Alloh tidak ingin kita sombong, riak ataupun pamer. Tuhan ingin kita apa adanya, down to earth, biasa saja dengan kemenangan kita. Biar saja semua kenangan itu menjadi kenang-kenangan yang tidak perlu dibesar2kan toh di atas langit masih ada langit. Jadi biasa saja dengan kemenangan tersebut.

Jumat, 09 Oktober 2015

SMPN 2 BAMBANGLIPURO JUARA JURNALISTIK 2015

 


Dendam telah terbalaskan, SMPN 2 Bambanglipuro menjadi juara 2 lomba karya jurnalistik siswa tingkat nasional di Solo dari tanggal 5 - 9 Oktober 2015.
Kalo tahun lalu kami baru menjadi finalis maka tahun ini kami sudah bisa mewujudkan ambisi kami menjadi juara LKJS.
       Dengan kemenangan tersebut kami berhak menerima 3 medali perak, 1 trophy dan uang pembinaan sebesar 12jt. Semoga tahun depan kami bisa mempertahankan gelar tersebut atau lebih tinggi lagi.


Kamis, 10 September 2015

MEMBUAT JERA PENEROBOS TRAFFIC LIGHT

   Padatnya jalan raya, sering membuat kita gampang emosi. Panasnya matari, debu yang berterbangan dan para pengendara yang tidak sabaran. Andai kata mereka lebih sabaran mungkin kepadatan dan kemacetan tidak akan separah ini. Menurut saya kemacetan bukan hanya masalah para polisi, tetapi masalah kita semua. Kita yang sering tidak menghormati rambu - rambu lalu lintas dan juga suka menerobos aturan yang ada. Itu juga membuat jalan semakin semrawut, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kecelakaan yang membuat jalanan bisa macet. Sedangkan polisi tidak bisa salahkan, mau menyalahkan bagaimana wong banyaknya kendaraan tidak seimbang dengan jalan yang dibuat. Kecepatan pembangunan terutama jalan - jalan tidak dapat menampung banyaknya kendaraan yang telah beredar. Lalu apakah solusinya? Menurut saya solusinya adalah hadirkan polisi di tiap simpang jalan (perempatan, pertigaan atau traffic light yang ada). Untuk apakah polisi dihadirkan? Ya untuk menjaga dan mencegah para penerobos rambu - rambu lalu lintas, yang membuat parah jalan raya. Dengan hadirnya para polisi tersebut dapat mencegah pengendara untuk menerobos atau melanggar peraturan yang ada. Kalau masih ada yang melanggar? Gampang itu, beri punishment/hukuman tetapi coba hukuman yang ekstrim atau yang ekstra ordinary, jangan menilang atau menahan SIMnya. Itu sudah kuno kurang berkesan, malah membuat dampak yang negatif karena nanti ujung - ujungnya uang. Lalu bagaimana? Nah ini yang spektakuler. Setelah polisi dapat menangkap para pelanggar atau penerobos traffic light maka polisi ambil saja pentil ban motor. Setelah diambil lalu dibuang atau disimpan kemudian pengendara diminta melanjutkan perjalanan. Nah dari tindakan tersebut dia akan berpikir lagi untuk mengulangi kesalahan karena dia merasa kerepotan harus naik motor yang bannya kempes atau mungkin dia harus menuntun kendaraanya sampai menemukan bengkel yang ada atau mungkin sampai rumah. Kerenkan hukumannya? Tidak perlu denda atau menahan SIM kalau memang mereka melanggar tetapi berikan efek jera dengan membuat mereka malu. Itu yang terbaik. Percayalah. Ini juga saya yakin dapat diterapkan di Jakarta yang notabene banyak pelanggaran. Tidak perlu inovasi yang lain tetapi diperlukan kerelaan para polisi untuk setia menjaga pos - pos tersebut guna menangkap para penerobos traffic light yang bikin macet jalan raya dan membahayakan pengguna yang lain. Bravo polisi

Rabu, 26 Agustus 2015

REFLEKSI DIRI

     Diumur yang tidak muda lagi ini, aku mesti banyak bersyukur dan merenungi : apa yang telah aku capai sampai detik ini? Bukan pencapaian materi yang aku maksud tetapi prestasi - prestasi dan karya yang telah kuhasilkan sampai usiaku sekarang ini. Menurutku betapa sia - sianya kita jika terlalu santai dan nyaman dengan kehidupan tersebut. Padahal diluar sana dan orang - orang di sekitar kita berlomba dan berkarya yang menunjukkan eksistensi kita, kemanfaatan kita bagi lingkungan kita. Bukankah orang yang paling bagus itu, orang yang dapat bermanfaat bagi seluas - luasnya manusia di sekitarnya? Namun apa yang terjadi padaku? Aku masih di sini asyik dengan hidupku, nyaman dengan hidupku, dan tidak melakukan apapun unutk hidupku, karierku dan masa depanku. Aku harus bangkit dan segera merintis masa depanku. Aku yakin kalau aku tidak berbuat apapun maka tidak akan ada apapun yang terjadi dalam hidupku. Oleh karena itu, hidup prelu bergerak, dinamis dan kreatif. Mengapa akhir - akhir ini kreatifitasku berkurang? kalau tidak bisa dikatakan hilang sama sekali. Apa yang menyebabkan aku begini? Apa pekerjaanku terlalu banyak sehingga tidak ada lagi waktu, ide dan tenaga berbuat yang lain? Mungkin, bisa jadi tetapi inilah saatnya aku berbenah, masih ada hari dan waktu bagiku untuk mengejar ketertinggalanku ini sehingga aku bisa bangkit dan meraih prestasi - prestasi yang lain. Ah..memang itu tidak mudah namun aku perlu mencoba sehingga aku yakin apa yang aku usahakan ini memang benar - benar tidak mudah. Dalam hal ini aku juga perlu meyakini bahwa dengan kerja keras, ketekunan dan doa, tangan Tuhan pasti bekerja. Itu yang perlu kuyakini dan kuyakinkan kepada kamu juga. Kalau orang lain bisa kenapa aku tidak dan kenapa anda juga tidak? Itu saja.

Selasa, 30 Juni 2015

GURU PERLU UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN



Perubahan kriteria kelulusan seorang peserta didik membuat otoritas seorang guru diakui. Yang dulunya kriteria kelulusan peserta didik hanya ditentukan oleh nilai Ujian Nasional (UN), sekarang seorang peserta didik harus menempuh 4 kriteria kelulusan. Ke-empat kriteria kelulusan peserta didik yaitu : a) menyelesaikan seluruh program pembelajaran, b) berakhlak mulia dengan indikator  memperoleh nilai minimal baik untuk seluruh mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, mata pelajaran estetika dan mata pelajaran jasmani, olah raga dan kesehatan, c) lulus Ujian Sekolah dan d) lulus Ujian Nasional.
            Dari uraian di atas posisi Ujian Nasional berada paling akhir, artinya bahwa sebelum pengumuman kelulusan Ujian Nasional, peserta didik harus lulus kriteria yang lain. Sehingga peserta didik tidak akan berpersepsi bahwa setelah ia lulus Ujian Nasional maka ia telah lulus dari sekolahnya. Hal ini masih menjadi pandangan banyak peserta didik maupun orang tua peserta didik. Kejadian seorang guru yang tidak memberikan nilai yang baik terhadap seorang peserta didik baru-baru ini, yang membuat ia tidak lulus sekolah, semestinya tidak menjadi pro dan kontra di kalangan kita. Penilaian peserta didik merupakan otoritas seorang guru jadi walaupun peserta didik lulus Ujian Nasional tidak bisa otomatis peserta didik tersebut lulus dari sekolahnya. Kalau peserta didik hanya mengejar kelulusan pada Ujian Nasional, alangkah baiknya jika peserta didik tersebut masuk ke lembaga bimbingan belajar saja bukan masuk ke lembaga sekolah.
Lembaga sekolah bukan hanya mengajar tetapi sekolah juga mendidik, sehingga kita mesti appreciate terhadap para guru yang berani menjalankan fungsinya sebagai pendidik. Asumsi penulis, tidak mungkin seorang guru tidak meluluskan peserta didik jika peserta didik tersebut tidak kebangetan bodohnya atau nakalnya. Jadi mari kita beri ruang terhadap para guru untuk berwibawa dan mempunyai kewenangan dalam penilaian. Selama ini guru telah dikebiri wewenangnya dengan adanya Ujian Nasional. Momen inilah yang tepat untuk menunjukkan kredibilitas, keprofesionalan dan keberanian seorang guru. Walaupun penentuan kelulusan seorang peserta didik melalui rapat Dewan Guru, tetapi pasti peserta didik atau orang tua peserta didik akan memandang guru sebagai perseorangan sehingga ini sangat riskan terhadap keselamatan guru. Peserta didik dan orang tua peserta didik akan melihat mata pelajaran apa yang membuatnya tidak lulus. Dengan melihat mata pelajaran atau guru yang mengampu secara terpisah, peserta didik dan orang tua akan mengabaikan peran rapat Dewan Guru dalam mengambil keputusan lulus atau tidak lulus seorang peserta didik. Oleh karena itu, sudah saatnya Undang-Undang Perlindungan Guru (UUPG) dibuat demi keselamatan seorang guru dalam memberikan penilaian yang semestinya.
Dengan UUPG, guru mempunyai keberanian untuk menilai peserta didik secara obyektif dan akuntabel. UUPG akan membuat para guru nyaman bekerja, berani memberikan penilaian yang semestinya dan keselamatan terjamin. Lihat saja di media Televisi, para peserta didik yang tidak lulus Ujian Nasional, mereka merusak sekolahnya dan Dinas Pendidikan setempat, apalagi jika mereka mengetahui yang tidak meluluskan adalah guru secara pribadi. Misalnya guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), guru Agama atau guru lain secara perseorangan. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi terhadap para guru yang pemberani tersebut? Ketidak-siapan peserta didik atau orang tua peserta didik menerima kenyataan tidak lulus sekolah yang disebabkan oleh seorang guru, akan berakibat fatal terhadap seorang guru tersebut. Oleh karena itu, penting kiranya Undang-Undang Perlindungan Guru untuk dibuat segera.   

GURU VERSUS TV



     Kemajuan teknologi telah mebuat hidup lebih praktis dan efisien. Banyak produk kemajuan teknologi dewasa ini telah masuk ke dalam rumah kita.Salah satu prodk teknologi yang hampir semua orang punyai adalah televisi.Produk ini sangat mengesankan karena memberikan pelayanan audio visual tentang tentang informasi segala macam.Televisi yang kita punyai bisa sangat bermanfaat bagi kita dalam menyerap segala informasi.Karena televisi meyajikan dan menyiarkan berbagai program acara. Dimana acara-acara itu perlu kita seleksi untuk kita tonton.Tanpa kita pilih maka dampak yang kurang baik akan mempengaruhi jalan kita.
Banyak keuntungan yang bisa kita dapat dari broadcast televisi,namun ada juga kerugiannya.Melalui televisi kita men-download informasi dan ilmu pengetahuan.Sebab televisi merupakan alat komunikasi satu arah,maka segala komplain dan tanya jawab tidak bisa kita lakukan secara langsung.Dengan adanya pengaruh yang negatif bagi kita khususnya,anak didik kita,menyebabakan kita harus mewanti-wanti kepada siswa kita untuk memilah dan memilih acara –acara yang bermutu dan sesuai dengan perkembangan jiwanya.
Rasanya tidak berlebihan bila menjadikan televisi adalah musuh bagi para pendidik.Sebab ternyata anak didik kita belum bisa memilih dan memilah acara yang berbobot bagi kehidupannya.Contohnya ;kejadian tidak kriminal ,bunuh diri,tindakan meniru olah raga berbahaya dan lain-lain.Semua contoh tersebut meupakan hasil”bimbingan”produk televisi.
   Televisi telah menjadi guru bagi anak didik kita.Telvisi telah memberi lebih mengajarnya daripada guru.Bahkan bisa sampai 24 jam non stop,televisi menjadi pengajar privat di dalam kamar,ruang tamu dan tempat-tempat yang lain. Jika guru ditandingkan dengan televisi,pasti akan kalah.Karena guru bisa jadi kurang menarik dan kurang lama dalam mempengaruhi dan mengajar kebaikan.Jadi guru perlu partner untuk memenangkan pertarungan itu.Siapa partner guru untuk melawan televisi? Partnernya yaitu para orang tua atau wali murid siswa-siswa tersebut.Tanpa bantuan orang tua dan wali murid,niscaya guru sanggup melawan pengaruh buruk yang merasuki jiwa anak anak tercinta seperti perilaku konsumtif,malas belajar dan asosial.Oleh karen itu kita perlu men-sinergiskan peran orang tua dirumah dan para pendidik disekolah.Sehingga para siswa bisa mengambil manfaat dari adanya kemajuan tersebut.

IPAD, ANAKKU DAN SERTIFIKASI



“Yah beliin Ipad, ya?” rengek anakku yang masih berumur 6 tahun. Aku kaget dan merasa heran darimana ia mengetahui Ipad segala. Nampaknya perkembangan teknologi telah merambah ke segala usia. Buktinya anakku sudah mengenal gadget yang satu ini. Kalau anakku yang masih kecil saja sudah mengenal peralatan teknologi, bagaimana dengan para peserta didik kita? Mungkin mereka lebih canggih daripada anakku. Dari kondisi yang ada ini aku tertantang untuk mengetahui lebih banyak tentang teknologi, minimal jangan sampai kalah dengan anakku. Dan yang penting juga aku jangan sampai kalah dengan para peserta didikku. Jika para peserta didi sudah bias membuat e-mail, maka aku harus dapat membuat blog dan jika peserta didikku sudah dapat membuat blog maka aku harus dapat membuat cyber class. Malu rasanya jika aku sebagai guru kurang pergaulan (kuper ) dan gagap teknologi (gaptek) dihadapan para peserta didik. Kalau sampai kalah wah..jangan-jangan mereka belajar bukan dari gurunya tetapi malah belajar dari mbah Google.
Sebagai guru saat ini, malu rasanya tertinggal informasi di sekitar kita, bukankah semua materi/ bahan pelajaran dapat kita dapatkan dari lingkungan termasuk teknologi yang tersedia di sekitar kita. Kita harus mendengar dan melihat sekeliling kita, Indonesia kita dan dunia kita. Kemudian kita dapat menghubungkan pengetahuan tentang sekeliling kita dengan mata pelajaran yang kita ajarkan. Dengan cara tersebut, informasi yang diperoleh siswa selalu actual. Apalagi jika kita para guru yang sudah sertifikasi ada baiknya tambahan gaji tersebut untuk berlangganan surat kabar (melihat sekeliling) dan membeli laptop serta berlangganan internet (melihat dunia kita). Kedua fasilitas tersebut dapat juga kita gunakan untuk menunjang pembelajaran. Dengan sarana tersebut kita dapat menyajikan materi pelajaran dengan lebih menarik dan sistematis. Kita perlu mengurangi model pembelajaran dengan ceramah dan mencatat, karena itu pasti membosankan peserta didik kita.
Mari kita sisihkan beberapa lembar uang tunjangan profesi kita untuk menambah pengetahuan melalui surat kabar dan laptop terintegrasi dengan internet untuk menjadi guru yang professional. Bukankah gaji kita naik 100%? Logikanya ika gaji kita naik 1 x lipat maka etos kerja kita juga harus naik 1 x lipat, tidak seperti biasa-biasa saja sebab gaji kita sudah luar biasa besarnya.